Minggu, 16 Desember 2012

Say No To Ta’aruf (Katakan Tidak Untuk Ta’aruf)


Say No To Ta’aruf

Oleh : Al-Faqir Saif Muhammad Al-Amrin


Pendahuluan

Segala Puji Bagi Allah, yang dengan Taufiq dan Inayah-Nya telah memberikan kita kesempatan untuk berIman dan berIslam. Selawat dan Salam semoga senantiasa terlimpah curah kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah agung ini hingga kepada kita.

Apa yang ada dihadapan saudaraku ini adalah Maqalah tentang Ta’aruf, dimana makalah ini menjadi Nasakh (menghapus/membatalkan) terhadap maqalah atau pendapat saya sebelumnya tentang Ta’aruf. Sekaligus maqalah ini adalah bentuk pertobatan saya, karena telah keliru dalam memahami konsep Ta’aruf.

Ta’aruf Sebuah Dilema


Dulu diera 80an dan 90an, mungkin istilah Ta’aruf masih belum dikenal luas dikalangan masyarakat, karena kalimat ini hanya menjadi domain para aktivis Islam pada waktu itu. tetapi sekarang seiring semakin maraknya film-film bernuasa Islam, ditambah lagi seorang Ustadz Muda yang memperkenalkan kekasihnya kepublik dan menyebut hubungan yang mereka jalani dengan istilah Ta’aruf, maka publik indonesia semakin akrab dengan istilah Ta’aruf. Walaupun kalau kita tanya apa itu Ta’aruf mereka pasti bingung menjawabnya. Intinya Ta’aruf menurut mereka adalah Menjalin hubungan yang sesuai dengan Islam.

Kebingunan tentang konsep ta’aruf bukan hanya dialami oleh masyarakat umum, tetapi kebingungan ini juga dialami oleh mereka yang menyebut dirinya aktivis Islam. Kenapa bingung? Karena secara konsep ta’aruf tidak pernah kita kenal dalam khazanah Fiqh Islam, demikian juga tidak pernah termaktub dalam Alqur’an maupun hadist. Betul dalam Alquran surat Al-Hujarat ayat 13 ada penjelasan tentang Ta’aruf tetapi dalam konteks yang umum, tidak spesifik membahas tentang konsep saling mengenal antara laki-laki dan perempuan. Sehingga wajar bila tiap orang berbeda pemahamannya tentang Ta’aruf. Sebagian memahami bahwa Ta’aruf adalah sebuah komitmen untuk menikah, kita bertujuan mengenal siapa yang akan kita nikahi. Pertanyaannya sejauh mana kita harus mengenal orang yang akan kita nikahi itu? disinipun jawabannya beragam. Ada yang hanya sampai tau nama ortunya, dan alamat rumahnya, ada lagi yang mengatakan tahu visi misi dalam berumah tangga dsb.

Sebagian lagi memahami Ta’aruf sebagai sebuah fase untuk saling mendekatkan dan mengakrabkan diri sehingga nanti muncul kecocokan diatara mereka. Disinipun muncul pertanyaan keakraban seperti apa? Seperti orang yang pacaran? Walau tidak sambil pegangan tangan dan pelukan? Ini juga memunculkan berbagai spekulasi jawaban tergatung tingkat kecerdasan orang yang menjawab. Maka wajar bila kita pernah atau bahkan sering melihat ada aktivis Masjid atau ROHIS yang jalan bareng, dan boncengan dengan alasan sedang Ta’aruf.

Proses itu bernama Nazhar

Imam Bukhari Meriwayatkan sebuah hadist Dari Ibnu Abbas “Sesungguhnya Habibah binti Sahl adalah istri Tsabit bin Qais, telah menghadap kepada Nabi, SAW. Ia Berkata, ketika saya menikah dengannya (Tsabit Bin Qais), Tampaklah apa yang tidak aku ketahui pada malam pengantin kami. Aku pernah melihat beberapa orang laki-laki, namun suamiku adalah lelaki yang paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya. Tidak ada satu kebagusanpun yang aku temui pada dirinya. Aku tidak mengingkari kebagusan Akhlak dan agamanya, Ya Rasulullah, tetapi aku takut menjadi kufur bila tidak bercerai dengannya. Aku takut jika terus menerus bermaksyiat padanya karena ketidaktaatan pada suami dan aku tahu itu menyalahi perintah Allah SWT. Maka aku ingin bercerai darinya. Maka Rasulullah SAW bersabda “Maukah engkau mengembalikan kebun-kebunnya? Ia menjawab “Iya”.. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada Tsabit, “Ambil Kembali Kebun itu, dan Thalaqlah Istrimu satu kali”.

Kenapa Habibah menuntut Cerai? sebagaimana tradisi Arab yang senantiasa menjodohkan anak gadisnya dengan laki-laki pilihan walinya. Sehingga Habibah Belum pernah melihat Calon suaminya itu, belum perna sama sekali. Mereka bertemu setelah akad nikah. Sebelum berjumpa, dalam diri Habibah muncul harapan sewajarnya akan seorang suami. dan harapan itu, karena ketidaksiapannya, karena belum pernah melihat sebelumnya, menjadi tinggi melangit dan tak tergapai oleh kenyataan. Ia dilanda kekecewaan. mungkin kisahnya akan lain jika Habibah telah melihat calon suaminya sebelum pernikahan terjadi. maka, Ia akan punya waktu untuk menimbang. Ia punya waktu untuk bersiap.

Oleh karena itulah kemudian Rasul menganjurkan kepada setiap yang akan menikah. untuk melakukan Nazhar (Melihat). Apa itu Nazhar? Nazhar adalah proses melihat atau menelisik atau menelusuri apa yang bisa membuat tertarik pada orang yang akan dipinang atau dinikahi. Sebagaimana Sabda Rasulullah yang dituturkan oleh Jabir Ra. Rasulullah SAW pernah bersabada “Jika salah seorang diantara kalian ingin melamar seorang wanita, sementara ia mampu untuk melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya, hendaklah ia melakukannya”. Jabir kemudian berkata “Aku lantas melamar seorang wanita yang sebelumnya secara sembunyi-sembunyi aku lihat hingga aku memandang apa yang mendorongku untuk menikahinya”.

Nazhar sama sekali tidak bertentangan dengan nash yang memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan, Nazhar adalah pengecualian terhadap orang-orang yang hendak melamar seorang wanita, Nazhar boleh dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ataupun atas izin wanita yang ingin dipinangnya.

Nazhar tidak hanya difahami sebatas melihat bentuk fisiknya, tetapi juga bisa pada hal lain yang sifatnya umum. kecerdasannya, ketekunanya atau hal lain yang bisa mendorong kita untuk menikahinya. semua ini bisa dilakukan dengan melihat aktivitas kesehariannya. tanpa harus merepotkan diri melakukan Ta’aruf.

Lalu ada satu permasalahan, bagaimana kita bisa tahu tentang sifat dan karakternya kalau tidak saling mengenal? jawaban untuk masalah ini sungguh sangat mudah. Bukankah Rasulullah SAW, telah memerintahkan kita untuk memilih pasangan karena Agamanya? Orang yang agamanya Baik, maka dia akan berakhlak baik. Inilah Iman, Inilah Tawakal. Saya masih ingat ketika seorang Teman bercerita bahwa Temannya Dulu ketemu dengan Istrinya itu didalam angkot, ketika dia hendak pulang dari sebuah pengajian, dia melihat seorang wanita yang memikat hatinya, maka dia langsung bertanya kepada wanita itu, apakah Ukhti sudah menikah? Dimana Rumah Ukhti?, saya ingin melamar Ukhti!. dari sana dia kemudian menikah dan dikarunia beberapa anak. ini adalah bentuk Tawakal kita kepada Allah. bukankah Allah sendiri yang berfirman “Ketika sudah menekadkan sesuatu maka bertawakallah”..Demikian juga Rasulullah ketika perang Uhud, ketika harus mengikuti keinginan sebagian besar sahabatnya untuk menghadapi musuh diluar kota Madinah. Beliu bertawakal. Sebagaimana Sabdanya “Tidak pantas bagi seorang Nabi apabila telah memakai pakaian perangnya untuk meletakkannya kembali sebelum berperang.“ Dan konsekwensinya beliaupun terluka dan banyak sahabat-sahabat terbaik beliau gugur sebagai syuhada. Setiap pilihan ada harganya. ada konsekwensi yang harus kita hadapi. Terlalu banyak pertimbangan, justru akan membuat kita tidak akan bereni mengambil sebuah keputusan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra. “Barang siapa yang terlalu banya pertimbangan, maka dia akan menjadi pengecut”.

Dalam Buku Jalan Cinta Para Pejuang. Ustadz Salim A. Fillah mengungkapkan ~”Adalah Malcom Gladwell, Wartawan The New Yorker yang setelah sukses dengan buku Tipping Point-nya lalu berkelana penjuru Amerika untuk menulis dan merilis buku barunya Blink: The Power Of Thingking Without Thingking”. Buku tentang berfikit tanpa berfikir. Buku tentang dua detik pertama yang menentukan. Yang dengan pertimbangan dua detik itu, keputusan yang dihasilkan seringkali jauh lebih baik dari riset yang menjelimet. Dalam bukunya Gladwell membentangkan puluhan riset yang kuat validitasnya dari berbagai Ilmuwan terkemuka untuk menjabarkan tesisnya.

Dua Detik Pertama mencerap dengan Indera itu menentukan. maha penting.

Sejalan dengan riset-riset yang dicabarkan Malcolm Gladwell, Kazuo Murakami, ahli genetika peraih Max Planck Award 1990 itu berkisah bahwa para Ilmuwan yang begitu tekun belajar untuk menguasai disiplin Ilmunya hingga ketaraf ahli, acapkali tak pernah menghasilkan penemuan besar. Justru Ilmuwan yang tak banyak tahu, seringkali menghasilkan dobrakan-dobrakan mengejutkan dengan penemuan besar.

Mengapa Terlalu Banyak tahu terkadang menghalangi kita? Kata Mukarani dalam bukunya The Divine Message Of The DNA. Sebenarnya bukan informasi itu sendiri yang pada dasarnyaburuk; tetapi mengetahui lebih banyak daripada orang lain membuai kita untuk mempercayai bahwa keputusan kita lebih baik.

Padahal seringkali dengan banyaknya informasi membanjir, kemampuan otak kita untuk memilah mana informasi yang berguna dan mana yang tidak bermakna menjadi menurun. otak kita bingung menentukan prioritas. Fakta yang kita anggap penting ternyata sampah. sebaliknya, hal kecil yang kita remehkan justru bisa jadi kunci semuanya. Maka, merujuk pada Gladwell dan Murakami, kita memang tak perlu tahu banyak hal. cukup mengetahui yang penting saja. Begitu juga tentang calon suami, calon pasangan kita. Kita tak perlu tahu terlalu banyak. Cukup yang penting saja.

Dua Detik itu Sangat menentukan. Mungkin karena dalam dua detik itulah ruh saling mengenal. Mereka Saling mengirim Sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya,tanpa banyak bicara. Rasulullah SAW bersabda “Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. yang saling mengenal diantara mereka pasti akan melembut dan menyatu. yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah”(HR. Bukhari (3336) secara mua’allaq dari Aisyah, dan Muslim (2638), dari Abu Hurairah).

Jadi Ruh-Ruh kita telah memiliki sandi diantara mereka, sehingga jika sandi dikenali, tak perlu banyak lagi yang diketahui. Dalam bahasa keseharian kita Getaran hati. Bila getaran itu ada, maka langsung saja dieksekusi tanpa perlu banyak basa-basi. Lalu apa yang menjadi sandi diantara para Ruh? jawabannya tentu saja Iman. jadi bila gelombang imannya sama maka akan ada getaran yang sama dan bila tidak akan ditolak.”~

Nazhar adalah proses untuk menentukan sikap apakah kita akan melamar dan menikahinya atau tidak. Nazhar bukan basa-basi semu yang cenderung menipu.
Kesimpulan
Ta’aruf Ternyata Tidak kita Kenal dalam Khazanah Fiqh Klasik. Ta’aruf juga tidak pernah ada dalam hadist atau Al-Qur’an sebagai sebuah konsep menuju jenjang pernikahan.

Ta’aruf adalah morfosa dari sebuah aktivitas ganjil bernama pacaran. Ta’aruf tidak lebih dari sampah yang dibalut dengan kamuflase indah bernama Islam.

Islam tidak pernah mencantumkan Ta’aruf dalam proses pernikahan. Nabi tidak pernah mencontohkan apalahi memerintahkan.

Nabi hanya menganjurkan kita untuk Nazhar (Melihat) apa sekiranya yang bisa membuat kita tertarik pada orang yang akan kita nikahi. Allahumma Muafiq ila Aqwamit Thariq

{Sumber : http://saif1924.wordpress.com}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar