Karena Hizbut Tahrir melawan penguasa, maka Hizbut Tahrir adalah termasuk kelompok khawarij. Demikian orang 'salafy' bilang.
Komentar:
Tuduhan seperti ini karena cara berfikir yang simplikatif, dan
generalistik. Harus diakui, kesimpulan seperti ini tidak bisa dilepaskan
dari kongklusi mantik, meski konon dia tidak mengakui logika mantik (nalar filsafat). Seharusnya, orang menjadikan metode berpikir
rasional sebagai cara untuk menghukumi, bukan dengan cara logika. Cara
logika, adalah cara kaum filsafat untuk menghukumi sesuatu. Sedangkan
metode berpikir rasional, adalah metode berpikir sebagaimana terdapat
dalam QS. Al Baqarah: 30-33. Bagaimana mungkin Adam akan mampu
menyebutkan berbagai macam benda-benda, jika dia tidak memiliki maklumat
sebelumnya? Sedangkan malaikat, tidak bisa, sebab dia tidak memiliki
maklumat sabiqah tentang benda-benda di bumi. Maka, modal berpikir
rasional adalah: indera dan akal yang sehat, fakta yang akan dihukumi,
dan informasi awal.
Dalam kasus Khawarij, karena Khawarij
adalah kelompok yang menentang penguasa, dalam hal ini adalah Ali bin
Abi Thalib dan Umayyah bin Abi Sufyan, pada saat yang sama Hizbut Tahrir
juga menentang penguasa, maka disimpulkan bahwa Hizbut Tahrir adalah
Khawarij. Padahal, Khawarij adalah kelompok yang menentang penguasa yang
adil, yaitu Ali bin Abi Thalib, dan Muawiyah.
Khusus untuk
kasus Muawiyah, penentangan itu dilakukan setelah beliau dinyatakan
sebagai penguasa yang sah, pasca momentum 'aamul jama'ah (tahun
rekonsiliasi/tahun persatuan) yang ditandai dengan penyerahan baiat cucu
Rasul saw. (Hasan bin Ali), yang ketika itu menjadi khalifah, kepada
Muawiyah bin Abi Sufyan.
Maka, kalau asumsi "setiap kelompok
yang menentang penguasa adalah Khawarij", dan ini dianggap benar, maka
Husain bin Ali, cucu Rasul saw., dan Abdullah bin Zubair, cucu Abu Bakar
As Shiddiq, dengan logika yang sama bisa dituduh Khawarij.
Sebab, ada kesamaan; masing-masing, baik Khawarij maupun Husain bin Ali
dan Abdullah bin Zubair, sama-sama menentang penguasa. Apakah seperti
ini yang kita inginkan? Na'udzubillah.
Padahal, yang dilakukan
oleh Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair adalah menentang penguasa
yang zalim, yaitu Yazid bin Muawiyah.
Di sisi lain, meski ada
kemiripan antara apa yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir dengan apa yang
dilakukan oleh Husain dan Abdullah bin Zubair, tetapi keduanya juga
tidak bisa disamakan. Mengapa?
Pertama, tindakan Husain bin Ali
dan Abdullah bin Zubair mengangkat senjata untuk mengoreksi penguasa
yang zalim tadi dibenarkan, karena beliau hidup pada zaman Khilafah,
yang terbukti khalifahnya melakukan penyelewengan, sebagaimana konteks
hadits munabadzah bis saif (mengangkat senjata). Sementara itu, Hizbut
Tahrir saat ini hidup pada era dimana Khilafah tidak ada. Oleh karena
itu, hadits ini tidak bisa dipakai untuk membenarkan tindakan fisik,
munabadzah bis saif tadi. Maka, dalam menentang kezaliman penguasa,
Hizbut Tahrir sama sekali tidak akan menggunakan tindakan fisik,
melainkan dengan pemikiran.
Kedua, kalau munabadzah bis saif
tadi tidak dilakukan ketika Khilafah tidak ada, apakah berarti Hizbut
Tahrir akan menggunakannya pada saat Khilafah sudah ada? Pertanyaan
seperti ini juga dibangun dengan logika mantik. Lagi-lagi, kalau
kesimpulan tersebut ditarik secara simplikatif memang kelihatannya akan
seperti itu. Padahal jelas tidak begitu. Dengan kata lain, ketika
sebelum atau setelah Khilafah berdiri, Hizbut Tahrir tetap tidak akan
berubah. Tetapi, tetap sebagai kelompok pemikiran dan politik. Sebagai
kelompok pemikiran dan politik, Hizbut Tahrir telah belajar dari
kesalahan gerakan Abbas As Saffah, pada masa Khilafah Abbasiyah, yang
mengubah kekuatan politik untuk melakukan tindakan fisik dan mengangkat
senjata. Padahal, tugas utama dan mulia yang harus diemban oleh kelompok
pemikiran dan politik ini tidak lain adalah mendidik umat, mengoreksi
kesalahan penguasa dalam mengurus urusan rakyatnya, serta membongkar
rancangan jahat negara-negara imperialis dan antek-antek mereka terhadap
negeri-negeri kaum Muslim.
Dengan demikian, tuduhan bahwa
Hizbut Tahrir adalah Khawarij jelas merupakan kebohongan yang
menyesatkan. Karena, jelas bertentangan dengan fakta Hizb yang
sesungguhnya. Mengaku mengharamkan logika, tetapi menggunakan logika.
Pemahaman macam apa ini?
“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” {As. Al Ahzab : 66-68}
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar