Kamis, 20 Desember 2012

Karena Hizbut Tahrir melawan penguasa, maka Hizbut Tahrir adalah termasuk kelompok khawarij. Demikian orang 'salafy' bilang.

Karena Hizbut Tahrir melawan penguasa, maka Hizbut Tahrir adalah termasuk kelompok khawarij. Demikian orang 'salafy' bilang.

Komentar:
Tuduhan seperti ini karena cara berfikir yang simplikatif, dan generalistik. Harus diakui, kesimpulan seperti ini tidak bisa dilepaskan dari kongklusi mantik, meski konon dia tidak mengakui logika mantik (nalar filsafat). Seharusnya, orang menjadikan metode berpikir rasional sebagai cara untuk menghukumi, bukan dengan cara logika. Cara logika, adalah cara kaum filsafat untuk menghukumi sesuatu. Sedangkan metode berpikir rasional, adalah metode berpikir sebagaimana terdapat dalam QS. Al Baqarah: 30-33. Bagaimana mungkin Adam akan mampu menyebutkan berbagai macam benda-benda, jika dia tidak memiliki maklumat sebelumnya? Sedangkan malaikat, tidak bisa, sebab dia tidak memiliki maklumat sabiqah tentang benda-benda di bumi. Maka, modal berpikir rasional adalah: indera dan akal yang sehat, fakta yang akan dihukumi, dan informasi awal.


Dalam kasus Khawarij, karena Khawarij adalah kelompok yang menentang penguasa, dalam hal ini adalah Ali bin Abi Thalib dan Umayyah bin Abi Sufyan, pada saat yang sama Hizbut Tahrir juga menentang penguasa, maka disimpulkan bahwa Hizbut Tahrir adalah Khawarij. Padahal, Khawarij adalah kelompok yang menentang penguasa yang adil, yaitu Ali bin Abi Thalib, dan Muawiyah.

Khusus untuk kasus Muawiyah, penentangan itu dilakukan setelah beliau dinyatakan sebagai penguasa yang sah, pasca momentum 'aamul jama'ah (tahun rekonsiliasi/tahun persatuan) yang ditandai dengan penyerahan baiat cucu Rasul saw. (Hasan bin Ali), yang ketika itu menjadi khalifah, kepada Muawiyah bin Abi Sufyan.

Maka, kalau asumsi "setiap kelompok yang menentang penguasa adalah Khawarij", dan ini dianggap benar, maka Husain bin Ali, cucu Rasul saw., dan Abdullah bin Zubair, cucu Abu Bakar As Shiddiq, dengan logika yang sama bisa dituduh Khawarij.

Sebab, ada kesamaan; masing-masing, baik Khawarij maupun Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair, sama-sama menentang penguasa. Apakah seperti ini yang kita inginkan? Na'udzubillah.

Padahal, yang dilakukan oleh Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair adalah menentang penguasa yang zalim, yaitu Yazid bin Muawiyah.

Di sisi lain, meski ada kemiripan antara apa yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir dengan apa yang dilakukan oleh Husain dan Abdullah bin Zubair, tetapi keduanya juga tidak bisa disamakan. Mengapa?

Pertama, tindakan Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair mengangkat senjata untuk mengoreksi penguasa yang zalim tadi dibenarkan, karena beliau hidup pada zaman Khilafah, yang terbukti khalifahnya melakukan penyelewengan, sebagaimana konteks hadits munabadzah bis saif (mengangkat senjata). Sementara itu, Hizbut Tahrir saat ini hidup pada era dimana Khilafah tidak ada. Oleh karena itu, hadits ini tidak bisa dipakai untuk membenarkan tindakan fisik, munabadzah bis saif tadi. Maka, dalam menentang kezaliman penguasa, Hizbut Tahrir sama sekali tidak akan menggunakan tindakan fisik, melainkan dengan pemikiran.

Kedua, kalau munabadzah bis saif tadi tidak dilakukan ketika Khilafah tidak ada, apakah berarti Hizbut Tahrir akan menggunakannya pada saat Khilafah sudah ada? Pertanyaan seperti ini juga dibangun dengan logika mantik. Lagi-lagi, kalau kesimpulan tersebut ditarik secara simplikatif memang kelihatannya akan seperti itu. Padahal jelas tidak begitu. Dengan kata lain, ketika sebelum atau setelah Khilafah berdiri, Hizbut Tahrir tetap tidak akan berubah. Tetapi, tetap sebagai kelompok pemikiran dan politik. Sebagai kelompok pemikiran dan politik, Hizbut Tahrir telah belajar dari kesalahan gerakan Abbas As Saffah, pada masa Khilafah Abbasiyah, yang mengubah kekuatan politik untuk melakukan tindakan fisik dan mengangkat senjata. Padahal, tugas utama dan mulia yang harus diemban oleh kelompok pemikiran dan politik ini tidak lain adalah mendidik umat, mengoreksi kesalahan penguasa dalam mengurus urusan rakyatnya, serta membongkar rancangan jahat negara-negara imperialis dan antek-antek mereka terhadap negeri-negeri kaum Muslim.

Dengan demikian, tuduhan bahwa Hizbut Tahrir adalah Khawarij jelas merupakan kebohongan yang menyesatkan. Karena, jelas bertentangan dengan fakta Hizb yang sesungguhnya. Mengaku mengharamkan logika, tetapi menggunakan logika. Pemahaman macam apa ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar