Sumber: Majalah Islam Internasional Qiblati, Ramadhan 1433 H, Agustus 2012 M, Edisi 10 th. VII, hal 84-89.
Putra
sulung Abdushshamad Busyahri, Hamid Busyahri Abu Utsman menuturkan
kepada saya salah satu kisah terunik dan paling mengesankan bagi saya.
Dia berkata,
Lima
puluh tahun yang lalu, ayah saya, H. Abdushshamad Busyahri adalah
seorang penganut Syiah yang sangat rajin mengunjungi majlis-majlis
syirik yang dengan penuh kepalsuan dan kepura-puraan yang mereka beri
nama al-Husainiyyah. Sebuah penisbatan kepada al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma,
padahal beliau sendiri tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan
majelis ini maupun orang-orang yang menghadirinya sampai hari kiamat
kelak. Ayah adalah seorang laki-laki yang multazim (taat, konsisten) dan
dermawan. Orang-orang fakir saban hari mendatangi kantornya. Meskipun
tidak bisa baca-tulis, beliau memiliki perhatian besar terhadap
majelis-majelis zikir dan kajian-kajian yang disampaikan oleh para ulama
Syiah yang datang dari Najef dan Qumm.
Sebagaimana
penganut syiah lainnya, sejak kecil ayah telah melahap dongeng dan
kedustaan para sayid Rafidhah (setiap orang yang mengklaim dirinya
bernasab kepada keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebut
sayyid, dan mayoritas orang yang mereka klaim sebagai sayyid, tidak
benar penasaban mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa
para khalifah kaum muslimin adalah musuh ahlulbait, musuh Rasulullah dan
musuh Islam. Musuh terbesar Rasulullah dan keluarga beliau yang suci
ialah Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin al-Khattab –mudah-mudhan Allah
meridhai mereka dan menjadikan mereka ridha- demikian juga dengan kedua
putri mereka yang suci, istri-istri Nabi, serta ibunda kaum mukminin,
meskipun orang-orang zindik tersebut tiada menyukai kenyataan ini.
Ayah
menelan mentah-mentah kedustaan demi kedustaan nista ini hingga
membuatnya bereaksi mencaci kedua orang yang dikasihi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut setiap kali mendengar nama mereka.
Beliau pun tumbuh besar seperti orang-orang Rafidhah lainnya membeo
mengulang-ulang caci-makian terhadap ash-shiddq dan al-Faruq serta
sahabat mulia lainnya. Mereka mengulang-ulang apa yang mereka dengar
dari para tokoh spiritual mereka, para sayid yang kafir lagi zindik,
para mu’ammim (sebutan bagi para ulama Syi’ah yang kebanyakan mereka
mengenakan imamah hitam membalut kepala mereka). Semoga Allah menimpakan
kepada mereka hukuman yang berhak mereka terima.
Ketika
usia beliau mendekat empat puluh lima tahun, ayah memutuskan untuk
memperbaharui hidupnya dengan menunaikan ibadah haji ke Baitullah
al-Haram. Ayah bermaksud bergabung dengan biro perjalanan haji Rafidhah,
yang saat itu masih satu-satunya, karena populasi mereka saat itu tidak
sampai 2% dari jumlah total penduduk.
Ayah
saya Abdushshamad Busyahri tinggal di distrik al-Qaar, di Negara
Kuwait. Distrik al-Qaar merupakan perkampungan orang-orang Rafidhah
hingga saat ini. Beliau bekerja di kementerian Kesehatan kala itu.
kebetulan, Kementerian Kesehatan memutuskan merekomendasikan beliau
menjadi salah seorang tenaga tim kesehatan jemaah haji Kuwait di tanah
Haram. Ayah pun bingung apakah bergabung dengan tim kesehatan Kuwait
atau dengan biro haji Rafidhah.
Ayah
bertukar pikiran dengan pimpinan Tim Kesehatan, Ibrahim al-Mudhaf.
Beliau menyarankan untuk bergabung dengan Tim Kesehatan, karena
bagaimanapun tim memiliki fasilitas dan kesiapan yang lebih lengkap dan
lebih memadai. Dia juga berkata kepada ayah, “Saudaraku Abdushshamad,
setelah kita sampai di tanah suci, anda dapat bergabung dengan rombongan
tersebut, atau anda dapat mengunjungi siapa saja yang anda inginkan
dalam kafilah itu. kita fleksibel saja, anda tidak selalu harus terikat
dengan kami.” Akhirnya ayah saya Abdushshamad memutuskan bergabung
dengan tim kesehatan kerajaan Kuwait. Jika telah sampai di sana ia akan
bergabung dengan rombongan Syi’ah Rafidhah tersebut untuk melaksanakan
manasik haji ala mereka.
Allah
menakdirkan rombongan tim kesehatan tersebut menginap di Madinah
an-Nabawiyah selama beberapa hari sebelum menuju ke Makkah
al-Mukarramah, bertepatan dengan sampainya rombongan Rafidhah ke sana.
H. Abdushshamad meminta izin dari pimpinan tim untuk bergabung dengan
kafilah Rafidhah. Ketika sampai di sana mereka sedang bersiap-siap untuk
menzirahi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Masjid
an-Nabawiy dengan jalan kaki. Pimpinan rombongan, seorang sayid
mu’ammim, berdiri di tengah mereka seraya berkata, “Sekarang, kita semua
akan menziarahi kuburan Rasul yang paling agung….”
Dalam
perjalanan, sayid berkata, “Saya akan berdoa di sisi kuburan Nabi,
kalian semua ikutilah doa yang saya baca!”, Ayah saya, Abdushshamad,
berkata, “Saya pun memasuki masjid an-Nabawiy dan merasa gemetar karena
kewibawaan dan keagungannya. Ayah berjalan bersama anggota rombongan,
sayid mu’ammim berada di depan kami. Rombongan berhenti di sisi kuburan
Nabi yang mulia, kemudian berdo’a menirukan sayid.”
Ayah
melanjutkan, “Saat kami berdiri di sisi kuburan Nabi, tiba-tiba seorang
laki-laki tua Saudi berdiri tidak jauh dariku sehingga saya dapat
mendengarkan ucapan salamnya kepada al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi
wasallam, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Rasulullah, semoga rahmat
dan berkah Allah terlimpah kepada Anda. Semoga Allah memberikan imbalan
kepada anda atas kebaikan dan jasa-jasa Anda kepada umat; semoga Dia
melipat gandakan kebaikan bagi Anda, berbuat baik kepada Anda
sebagaimana Anda telah berbuat baik kepada umat ini. Saya bersaksi
bahwa anda telah menyampaikan risalah, telah menunaikan amanah, telah
menasihati umat dan telah bersungguh-sungguh menyampaikan agama Allah.
Ya Allah berikanlah kepada Muhammad, al-Wasilah dan karunia,
bangkitkanlah beliau kelak dengan kedudukan yang terpuji, sebagaimana
yang telah Engkau janjikan, sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari
janji.’ Saya pun kagum dengan adab dan ketenangan orang tua itu dalam
berdoa.”
Ayah
melanjutkan ceritanya, “Yang mengejutkan ialah saat orang tua itu
melihat dan menoleh ke kanan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
saya mendengar dia berkata, ‘Salam sejahtera kepadamu wahai Abu Bakar
Ash-Shiddiq, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepadamu, semoga
Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, semoga Allah memberikan imbalan
kebaikan atas jasa-jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam.’ Saya pun terkejut mendengarkan ucapannya dan semakin heran
ketika laki-laki tua itu menoleh ke arah kiri kuburan Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam sambil berkata, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Umar
bin al-Khaththab, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepada anda,
semoga Allah meridhai anda wahai Umar, semoga Allah memberi imbalan atas
jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam’.”
Ayah
saya, Abdushshamad berkata, “Saya tidak bisa menahan diri, saya pun
memegang pundak laki-laki tua itu sambil berkata kepadanya, ‘Apakah anda
berziarah ke kuburan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam atau ke keburan
Abu Bakar dan Umar hingga anda mengucapkan salam kepada keduanya di
sini?!’
Lelaki
tua itu menjawab, ‘Saudaraku, bagaimana aku tidak mengucapkan salam
kepada keduanya, sementara di hadapanku ini kuburan keduanya?! Ini
kuburan Abu Bakar dan ini kuburan Umar radhiyallahu anhuma’.
Dengan
suara yang mulai meninggi saya menanggapi perkataannya, ‘Saya tidak
pernah tahu bahwa kedua orang yang selalu kami caci pada pagi dan sore
hari dalam majelis Husainiyyah, terbaring di sisi kuburan Nabi kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?!’.
Kami
menyebut mereka berhala dan thagut, seperti yang kami terima dari para
sayid dan pemuka kami. Bagaimana mungkin musuh-musuh Islam, musuh-musuh
Allah dan Rasul-Nya dikubur di satu tempat bersama dengan penghulu para
nabi dan seluruh manusia?!
Saya berkata kepada laki-laki tua itu, ‘Apakah anda bergurau? Apa yang anda katakan ini pak tua?’
Orang-orang
pun mulai mendengarkan ucapan saya karena tanpa sadar suara saya telah
meninggi, sementara lelaki tua itu terheran-heran dengan penolakan keras
yang saya lontarkan terhadap apa yang telah dia katakan bahwa di sini
juga terdapat kuburan Abu Bakar dan kuburan Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Berikutnya
saya segera mendatangi sayid kami. Saat itu dia berdiri di tengah
domba-domba yang hilang, para anggota rombongan. Saya berkata kepadanya
dengan suara tinggi, ‘Sayid kami, wahai sayid kami, dengarkanlah apa
yang dikatakan oleh laki-laki ini, dia berkata bahwa Abu Bakar dan Umar
juga dikubur di sini.’
Sayid
Mu’ammim itu pun berkata kepada saya, ‘Benar, Abdushshamad, benar, Abu
Bakar as-Shiddiq dan Umar al-Faruq juga dikubur di sini.’
Saya
spontan berteriak di tengah orang ramai menolak jawabannya, ‘Apa yang
anda katakan ini? Ash-Shiddiq? Al-Faruq? Bukankah mereka itu berhala dan
thagut, yang kalian ajarkan kepada kami, musuh-musuh Allah dan
Rasul-Nya?! Mengapa salah seorang digelari Shiddiq dan yang lain Faruq?
Pahamkanlah saya wahai sayid kami!’
Sayapun
melihat as-Sayyid memberikan isyarat dengan mata sambil berkata,
‘Abdushshamad, jangan membuat malu kita di tengah orang ramai, jika
telah kembali ke penginapan, saya menjelaskan segala sesuatunya kepada
Anda.’
Dengan
suara yang semakin tinggi disertai orang yang semakin berkerumun saya
justru membantah, ‘Tidak… tidak…. tidak…. Demi Allah, saya tidak akan
meninggalkan tempat ini sampai Anda memahamkan saya sekarang juga,
bagaimana berhala dan thagut dikubur di sisi Rasulullah? Bagaimana kaum
Muslimin menerima situasi ini? Bagaimana Sayiduna Ali bin Abi Thalib
membiarkannya? Bagaimana Ahlulbait menerima orang-orang kafir dikubur
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Abu Bakar
telah merampas hak Fathimah seperti apa yang telah kalian ajarakan
kepada kami? Bukankah Umar telah mematahkan tulang rusuk Fathimah
az-Zahra’ seperti yang kami hafal dari kalian? Bagaimana Ahlulbait
menerima orang-orang kafir itu dikubur bersama Rasulullah?’
Sayid berkata, ‘Abdushshamad, Daulah Umawiyah, merekalah yang tekah menguburkan mereka di tempat ini!’
Saya
pun mengatakan, ‘Sayid!.....sekalipun saya ummi, tidak bisa baca tuis,
tetapi Allah telah memberikan akal yang sempurna… bagaimana Daulah
Umawiyah yang menguburkan mereka padahal mereka baru berkuasa setelah
sayid kita, Ali?, sementara sayiduna Ali dan Abbas meninggal setelah Abu
Bakar dan Umar? Anda sendiri telah mengatakan bahwa Sayyiduna Ali
adalah Haidar (sang singa) dan al-Karar, dan tidak gentar menghadapi
tekanan siapa pun dalam membela agama Allah?! Bagaimana mungkin beliau
dan ahlulbait mengizinkan dua orang kafir ini dikubur bersandingan
dengan penghulu para nabi?!’
Orang-orang
pun berhamburan ke arah kami, sayid tersebut melarikan diri diiringi
domba-dombanya yang tersesat meninggalkan area kuburan. Dengan suara
lantang saya berteriak, ‘Hai orang-orang ramai pahamkanlah kepada saya,
apakah saya ini sedang bermimpi atau apa?!’ orang-orang itu pun berusaha
menenangkan saya, mereka berkata, ‘Berdzikirlah, ingatlah kepada Allah
wahai Syaikh…. Berdzikirlah mengingat Allah!’
Sejenak
kemudian seorang Masyayikh di al-Haram menghampiri dan memegang saya
sambil berkata, ‘Ada apa dengan anda? Anda berteriak-teriak di sisi
kuburan Nabi, ini tidak boleh…. Allah memerintahkan kita untuk
merendahkan suara kita jika berada di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam melalui firman-Nya,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ
النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ
أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ (٢)إِنَّ
الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ
الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (٣)
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi
suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang
keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang
lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak
menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi
Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh
Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS.
Al-Hujurat: 2-3)’.”
Ayahku, H. Abdushshamad melanjutkan ceritanya,
Ayah
tidak menguasai diri, meratap dan menangis. Kemudian Syekh tersebut
kembali berkata, ‘Ada apa dengan Anda, saudaraku? Apa yang telah
terjadi?’
Ayah
menjawab, ‘Anda mengatakan bahwa Allah memerintahkan kita untuk
merendahkan suara ketika berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam supaya kita tidak menyakiti beliau, bahwa Allah menguji kita
melalui perintah ini… sementara saya, sejak kecil sampai saat ini tidak
berhenti mencaci sahabat-sahabat beliau, tidak pernah berhenti mencaci
istri-istri beliau! Jika dengan meninggikan suara saja telah
menghapuskan amal-amal dan menyia-nyiakannya, seperti dalam ayat
tersebut, bagaimana halnya dengan orang yang mencela sahabat-sahabat dan
istri-istri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sepenjang hayatnya?’
Maka
berkatalah Syeikh tersebut, ‘Aku berlindung kepada Allah… Anda mencaci
sahabat-sahabat beliau, dan istri-istri beliau, ummahatul mukminin?
Apakah anda seorang Rafidhah?!’
Ayah
menjawab, ‘Betul, saya seorang penganut Rafidhah, saya adalah sampah…
saya…!!! Sekarang saya tahu bahwa saya telah tersesat! Saya telah
disesatkan, saya betul-betul telah tertipu. Demi Allah! Demi Allah! Saya
tidak pernah tahu bahwa Abu Bakar dan Umar dikuburkan di sisi Nabi di
tempat yang sama. Tuan Syeikh jelaskanlah kepada saya, apakah Allah
telah menipu Nabi-Nya? Apakah Allah mengkhianati Nabi-Nya? Apakah Allah
tidak memuliakan nabi-Nya di kuburnya?!! Bagaimana Allah membiarkan
orang-orang kafir dan musuh-musuh-Nya dan musuh Rasul-Nya dikuburkan
bersisian dengan pusara Nabi?! Mengapa?! Mengapa Sayyiduna Ali bin Abi
Thalib dan ahlulbait tidak mampu melarang penguburan keduanya di sisi
beliau? Bagaimana Allah membiarkan orang-orang kafir dikuburkan bersama
Sayiduna Muhammad, di tempat yang paling diagungkan di permukaan bumi,
di Raudhah yang mulia, hingga hari kiamat?! Mengapa?! Berilah saya
jawaban!
Betulkah mereka yang telah mengajari kami mencaci dua orang laki-laki ini orang-orang muslim atau para penjahat?!
Demi
Allah sekarang saya mengerti, hanya dua kemungkinannya: bisa jadi Allah
teledor menyia-nyiakan hak Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, wal
‘iyadzu billah, atau sayyid-sayyid kami dan mu’ammim kami yang
mengkhianati Allah dan Rasul-Nya!!!’
Syekh
tersebut berkata kepada Ayah, ‘Saudaraku Abdushshamad, Abu Bakar
Ash-Shiddiq dan Umar Al-Faruq bukan hanya dikuburkan bersama Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam di satu lokasi, mereka bahkan adalah sanak
keluarga beliau: putri-putri mereka, Aisyah dan Hafshah radhiyallahu
anhuma merupakan istri-istri beliau, ibunda kaum Mukminin berdasarkan
nash al-Qur’an.’
Ayah
berkata, ‘Ya Allah, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah laknatlah para
mu’ammim kami! Ya Allah, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah,
laknatlah para mu’ammim kami! Jika benar yang mereka katakan berarti
Allah telah menikahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan
wanita-wanita kafir dan keji, kemudian menguburkan beliau bersama
ayah-ayah mereka yang kafir?! Bagaimana akal sehat bisa membenarkan
ucapan ini?! Saya pun menangis tersedu-sedan.’ Syekh tersebut meraih dan
merengkuh ayah dan berkata, ‘Alhamdulillah, Allah telah menghilangkan
selaput yang menutup kedua bola mata anda. Marilah saya ajarkan kepada
anda berwudhu dan shalat seperti yang diamalkan Rasulullah…’
Laki-laki
itu pun menuntun saya keluar dari tengah kerumunan manusia, lalu kami
menuju ke tempat khusus yang diperuntukkan untuk air zam-zam. Dia
berkata, ‘Berwudhulah bersama saya seperti ini…’
Ayah
pun berwudhu mengikutinya. ‘Demi Allah, begitu selesai, ayah merasakan
betapa lapangnya dada ini, seolah-olah baru tahu bahwa Tidak ada
sesembahan yang hak kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.’
Setelah
selesai ayah keluar dari Masjid Nabawy asy-Sayrif, begitu sampai ke
tempat tim kesehatan dan melihat pimpinan rombongan, Ibrahmi al-Mudhaf
yang sunni, ayah pun merangkulnya sambil menangis haru. Ayah berkata
kepadanya, ‘Ibrahim al-Mudhaf, saudaraku, mulai saat ini saya tidak akan
lagi mengatakan bahwa Allah telah menghinakan Rasul dan kekasihnya
shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat ini saya berlepas diri dari
menghina ahlulbait, mereka lebih mulia dan lebih terhormat untuk menjadi
pengecut yang takut memperjuangkan ucapan yang haq. Sejak saat ini,
saya berlepas diri dari fitnah yang menodai kehormatan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, istri-istri beliau yang suci, yaitu ibunda
kaum Mukminin sebagaimana yang telah dijelaskan oleh nash al-Qur’an
yang mulia. Mulai detik ini, saya tidak akan lagi mencela Rasulullah dan
menyebut beliau gagal dan tidak mengerti mendidik sahabat-sahabat
bagaimana seharusnya bersikap sepeninggal beliau. Mulai saat ini, saya
berlepas diri dari perilaku orang-orang Rafidhah, meniru orang-orang
Yahudi mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’
Ayah
pulang ke Kuwait dengan raut wajah yang berbeda dari saat berangkat.
Beliau kembali dengan keimanan yang memenuhi hatinya. Dia kembali
membawa ketenangan yang melapangkan dadanya. Dia kembali dengan cahaya
pemahaman yang telah membebaskan akalnya dari kegelapan kebodohan,
penyimpangan dan kesesatan.
Ayah
segera menemui ibu, Ummu Hamid rahimahallah dan berkata kepada beliau,
‘Istriku sesungguhnya aku telah masuk Islam yang lain dari Islam yang
telah menipu kita selama bertahun-tahun… saya telah masuk Islam, yang
tidak ada kedustaan di dalamnya, tidak ada penipuan, kedengkian,
kesyirikan, bid’ah, cacian dan kesesatan yang nyata… Jika engkau
mengikuti langkahku, engkau tetaplah istriku. Jika tidak, kembalilah
kepada keluargamu’, ibu pun berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah
mendapatkan pada dirimu selain cinta kepada kebaikan, aku tidak memiliki
prasangka selain bahwa Allah telah memberikan taufik kepadamu, kepada
suatu kebaikan yang besar. Aku akan selalu bersamamu; sekarang aku
adalah muslimah sunni yang mengesakan Allah rabbul ‘alamin, aku
berlindung kepada Allah dari perbuatan mempersekutukan-Nya apa dan siapa
pun’
Waktu
pun berlalu berbilang tahun. Ibu, Ummu Hamid, melahirkan bayi laki-laki
yang diberi nama Umar oleh ayah (orang-orang Syiah sangat membenci
sahabat-sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dengan memberikan
salah satu nama tersebut kepada anak bagi mereka menjadi salah satu
tanda bahwa yang bersangkutan bukan penganut Syiah). Umar putra keempat
ayah setelah saya (Hamid), Mahmud dan Adil. Ayah menghadapi penentangan
yang keras dari tetangga-tetangga kami yang Rafidhi begitu mengetahui
bahwa beliau telah meninggalkan agama mereka. Mereka melarang anak-anak
mereka bergaul dan bermain dengan kami, anak-anak ayah, melarang
istri-istri mereka mengunjungi ibu. Tetapi ayah mengahadapinya dengan
penuh sabar dan tidak putus berdoa kepada Allah meminta jalan keluar.
Hanya berapa tahun kemudian, Allah melimpahkan rezki yang tidak
disangka-sangka, ayah memboyong kami pindah dari lingkungan Rafidhah
tempat tinggal kami semula, ke distrik lain. Di sanalah ayah
menghembuskan nafasnya yang terakhir, berpulang ke rahmatullah,
mewariskan kepada kami sebuah agama yang haq.
Hal
yang mengagumkan kemudian terjadi dalam kisah ini, banyak jamaah masjid
dan keluarga beliau bermimpi melihatnya dalam kondisi yang sangat baik,
masing-masing mereka melihat beliau memakai baju yang sangat putih
bersih, duduk-duduk di sebuah tempat duduk yang bagus, pada tempat yang
mulia sambil berkata, “Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah
memberikan hidayah ini kepada kami; kita tidak akan mendapatkan petunjuk
seandainya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kita.” Demikian Abu
Utsman Hamid Busyahri menutup kisah sadarnya orang tua beliau.
Ya
Allah terimalah dia, al marhum biidznillah, Abdushshamad Mahmud
Busyahri, dan tempatkan beliau di tengah orang-orang shalih, dan
pertemukanlah dia dengan para shiddiqin dan syuhada dan mereka adalah
sebaik-baik teman… dan berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya
mereka tidak mengetahui, amin…amin ya Rabb’ al-‘Alamin.
Menutup
kisah ini, saya sampaikan kepada setiap orang Rafidhah, tahukah anda
semua, mengapa Abdushshamad diberi hidayah oleh Allah kepada kebenaran?
Karena satu sebab yang sangat sederhana, karena dia membuka diri untuk
memfungsikan akalnya. Oleh karena itu, kapankah anda semua meniru
tindakan beliau? Adalah sebuah aib besar jika seorang yang ummi, tidak
bisa baca-tulis seperti Abdushshamad Busyahri rahimahullah mampu
memfungsikan akalnya dengan baik, sementara kalian membiarkan akal
kalian dikendalikan orang lain. Sehingga mereka bisa memperlakukan
kalian sesuka hati mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar